Bolos dan Pilihan Bebas untuk Belajar
January 2nd, 2007 by wiwikbudiwasito
Bolos dan Pilihan Bebas untuk Belajar
Oleh : Wiwik Budi Wasito*
Di saat sebagian besar siswa sekolah sedang melakukan “pergulatan” intelektual di dalam kelas, beberapa gerombol rekan-rekannya berseragam SMP dan SMA, justru tampak bersendagurau riang di suatu warung kopi sambil mengenduskan asap rokok, tepat di saat orang tua mereka membanting tulang mencari segenggam rupiah untuk membiayai sekolahnya.
Bolos sekolah. Tampaknya telah menjadi fenomena yang tak lekang oleh zaman. Di antara sidang pembaca, mungkin pernah punya pengalaman serupa walau tak persis sama dengan kejadian di atas, sebagaimana yang juga pernah dialami oleh penulis.
Banyak sekali alasan yang menyertai aktifitas bolos. Seperti, ikut-ikutan teman, bosan atau tidak suka dengan suasana belajar, bahkan bolos dijadikan simbol bahwa kita (pelajar) telah cukup dewasa untuk menjadi diri sendiri dan tahu apa yang terbaik menurut kita. Salah satunya dengan menunjukkan berani bolos.
Bagi kita yang sadar dan paham akan pentingnya meraup segenap ilmu dan pengetahuan, maka, bolos sekolah untuk menghabiskan waktu efektif dan produktif, tentu bukanlah pilihan. Roda waktu tak dapat diulang untuk mengganti setiap detik kesempatan yang harus terbuang hambar oleh aktifitas yang merugi (salah satunya, hura-hura dan merusak raga dengan merokok).
Telah banyak cara dilakukan untuk mengatasi kenakalan pelajar ini. Mulai dari berbagai bentuk hukuman pendisiplinan di sekolah hingga razia yang dilakukan oleh petugas secara berkala (kala razia, kala tidak). Namun semua hal itu tampaknya tidak membuat mereka jera. Justru, jiwa muda yang cenderung memberontak dan dahaga atas pencarian jati diri, merasa tersulut untuk melakukan hal yang kontraproduktif.
Sesungguhnya, kita tidak boleh terlalu permisif atau menganggap biasa fenomena ini, hanya karena selalu terjadi dari generasi ke generasi. Justru, sebisa mungkin mulai sekarang kita harus meminimalisir tradisi buruk yang telah akut ini. Caranya?
Dengan menanamkan rasa tanggung jawab. Menurut penulis merupakan kunci untuk membuka pintu akal sehat generasi muda. Namun, upaya ini tidak bisa digantungkan begitu saja pada pundak tanggung jawab salah satu pihak, melainkan, menjadi tanggung jawab bersama, baik si pelajar, keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Mengapa tanggung jawab ? karena, tanpa mengenal tanggung jawab, setiap orang cenderung akan berbuat semau gue, dan tidak akan memahami hakikat perimbangan kewajiban dan hak yang harus dipenuhi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, sekaligus bernegara.
Tanpa bermaksud menggurui, penulis ingin mengajukan beberapa hal yang sekiranya bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh para pihak yang terkait dengan masalah pendidikan, berdasarkan pengalaman penulis. Pertama, dulu, selama menjadi pelajar, jarang sekali penulis temui Guru yang bisa menjalankan perannya sebagai pembimbing hidup. Kebanyakan dari mereka hanya melaksanakan tugasnya mengajar mata pelajaran. Itu saja,…kemudian pulang.
Peran Guru yang digugu omongannya dan/atau dapat ditiru tindak tanduk-nya, hampir jarang ditemui. Sedikit sekali Guru yang mau berpesan, bertutur dan memberi contoh pada muridnya, bahwa untuk menjadi manusia unggul, setiap insan harus mengerti dan mampu menyandang tanggung jawab, khususnya sebagai generasi penerus bangsa.
Jangankan omong tanggung jawab, terkadang murid pun tidak benar-benar tahu, buat apa mereka sekolah? karena, yang tertanam di otaknya hanyalah, mereka wajib pergi sekolah, dan belajar sesuatu yang terkadang mereka juga tidak paham, apa faedah yang akan didapat dari pelajaran itu, dan peran apa yang akan mereka lakoni nantinya dari segenap ilmu pengetahuan yang mereka peroleh. Setelah lulus, memperoleh secarik ijasah, kemudian….entah.
Beruntung bagi pelajar yang masih punya orang tua peduli anak, sehingga masih bisa memberi pertimbangan apa yang harus mereka lakukan selepas sekolah. Tetapi, ada juga dari mereka yang tidak beruntung, hingga harus kelimpungan setelah lulus karena tidak tahu harus berbuat dan berperan sebagai apa. Tanggung jawab apa kira-kira yang harus mereka emban ini?
Sedangkan pemerintah, tampaknya selama ini hanya berkubang pada masalah pergantian kurikulum yang memusingkan semua pihak terkait (terutama masyarakat dan Guru) gara-gara konsep pendidikan yang tak pernah membumi dan jelas visi-misinya, meski telah ditulis secara ideal dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).
Disadari atau tidak, paradigma pendidikan di tanah air selama ini, sepertinya hanya diarahkan untuk mencetak pekerja-pekerja teknis-matematis. Murid dididik untuk mengasah kemampuan otak kiri, untuk membentuk pola kerja mekanik selayaknya robot. Murid dipaksa menghafal banyak hal, tapi jarang diajak bernalar tentang segala hal, untuk memancing keluarnya ide-ide kreatif. Meskipun, pada petunjuk ajar, Guru juga diharuskan menumbuhkan aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik.
Melihat kemunduran di era yang semakin maju ini, maka, sekarang, sudah saatnya bagi pemerintah untuk lebih memusatkan perhatian, untuk tidak hanya berusaha mencetak generasi yang pintar semata, tapi juga harus cerdas dan bertanggung jawab. Caranya ?
Pemerintah harus mau mengambil langkah berani dengan membuat kebijakan baru, yang memungkinkan murid memperoleh kebebasan untuk memilih mata pelajaran apa yang mereka suka dan ingin kuasai, atau yang penulis sebut: pilihan bebas untuk belajar.
Terbaca radikal atau tidak masuk akal?…. mungkin. Tetapi, hal ini patut dicoba, sebagaimana yang telah dilakukan di banyak negara maju. Mereka membuat model sekolah privat tetapi legal (diakui negara), yang membebaskan murid memilih sendiri pelajaran apa saja yang mereka inginkan. Dan mereka pun bisa belajar di rumah sambil dididik oleh Guru di bidangnya. Nantinya mereka juga akan menempuh proses ujian resmi dari negara sesuai dengan mata pelajaran yang digeluti, untuk memperoleh sertifikat.
Meski tidak harus dalam bentuk sekolah privat, dalam sekolah umum pun, kebijakan membebaskan siswa untuk memilih sendiri mata pelajarannya, pendapat penulis, sangat berpotensi untuk mengurangi peluang bolos sekolah sebagaimana yang selama ini menjadi bentuk pemberontakan terhadap sistem dan cara belajar yang menjemukan dan terkesan memaksa, serta membebani itu. Siapapun, akan enggan beranjak dari tempatnya ketika telah terpaku dengan hal-hal yang diminati.
Selain dukungan bimbingan dari orang tua dan Guru, dengan diberinya pilihan bebas bagi setiap siswa untuk menentukan sendiri pelajaran apa yang ingin dikuasai, diharapkan akan menjadikan mereka lebih bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya sendiri. Karena, pada dasarnya mereka paham dan tahu betul, apa yang mereka pilih dan konsekuensi apa yang akan mereka hadapi. Tentunya, itupun setelah ada penjelasan yang obyektif dari para pihak yang lebih dulu paham akan fungsi dan manfaat dari tiap-tiap mata pelajaran.
Maka, selamat membaca, selamat belajar, dan selamat menekuni hal apapun yang pembaca minati, tentunya dengan penuh tanggung jawab.
*Penulis adalah Alumnus SMUN 2 Pare-Kediri dan S1 Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya.